Ia menyebut abrasi telah merenggut lahan perkebunan milik keluarganya sejak lebih dari satu dekade lalu.
“Abrasi mulai menggerus lahan kebun orang tua saya sejak 2012. Sekarang lahannya sudah menjadi laut, yang tersisa hanya sertifikatnya saja,” ungkap Erna dengan nada prihatin.
Menurutnya, abrasi yang terus terjadi membuat warga pesisir hidup dalam kecemasan.
Setiap tahun, garis pantai semakin mendekat ke permukiman, sementara solusi permanen belum juga terwujud.
“Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan dan melakukan penanganan serius. Jangan sampai rumah warga, sekolah, dan masjid ikut hilang,” tutupnya.








