Sayangnya, produktivitas sawit rakyat masih tertinggal. Rata-rata hanya 3.603 kilogram per hektare. Angka ini lebih rendah dari perkebunan besar.
RPJMD Bengkulu 2025–2029 menyoroti masalah ini. Degradasi lahan dan keterbatasan sarana produksi menjadi penyebab utama.
Karena itu, pemerintah memprioritaskan teknologi pertanian modern.
Infrastruktur distribusi dan kelembagaan pangan juga diperkuat.
Di sisi lain, kopi Bengkulu menunjukkan tren positif. Luas kebun kopi rakyat mencapai 90.990 hektare pada 2024.
Produksi kopi mencapai 54.084 ton. Angka ini naik 6,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan terjadi meski perluasan lahan relatif kecil.








