<strong>RBMEDIA.ID -</strong> Bulan Ramadan identik dengan beragam hidangan khas yang menggugah selera. Mulai dari opor ayam, rendang, gulai hingga kolak, banyak menu berbuka puasa di Indonesia menggunakan santan sebagai bahan utama. Namun, makan banyak santan saat berbuka puasa tidak dianjurkan, ternyata ini alasannya. Setelah seharian menahan lapar dan haus, tubuh berada dalam kondisi kosong dan membutuhkan asupan yang tepat untuk mengembalikan energi. BACA JUGA: <a href="https://rbmedia.id/proyek-rp359-miliar-puskesmas-sambirejo-disorot-aph-diminta-segera-usut/">Proyek Rp3,59 Miliar Puskesmas Sambirejo Disorot, APH Diminta Segera Usut</a> Sayangnya, langsung mengonsumsi makanan tinggi lemak seperti santan dalam jumlah berlebihan justru bisa memicu gangguan pencernaan dan membuat tubuh terasa tidak nyaman. <h2>Santan Tinggi Lemak, Lambung Butuh Adaptasi</h2> Santan mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi.<!--nextpage--> Ketika perut kosong selama kurang lebih 13–14 jam, sistem pencernaan bekerja lebih sensitif dari biasanya. Jika langsung diberi makanan berat dan berlemak, lambung membutuhkan waktu ekstra untuk mencerna. Akibatnya, sebagian orang bisa merasakan keluhan seperti perut terasa begah, mual atau ingin muntah, asam lambung naik bahkan nyeri ulu hati. Kondisi ini semakin rentan terjadi pada mereka yang memiliki riwayat maag atau gangguan lambung. <h2>Berisiko Memicu Lonjakan Kolesterol</h2> Selain berdampak pada lambung, konsumsi santan berlebihan saat berbuka juga dapat meningkatkan asupan lemak jenuh harian.<!--nextpage--> BACA JUGA: <a href="https://rbmedia.id/ferry-ramli-muncul-di-sidang-pt-rsm-ini-pengakuannya-soal-izin-2014/">Ferry Ramli Muncul di Sidang PT RSM, Ini Pengakuannya Soal Izin 2014</a> Jika dikonsumsi terus-menerus selama Ramadan tanpa kontrol, hal ini berpotensi memengaruhi kadar kolesterol. Meski santan alami berbeda dengan lemak trans, tetap saja konsumsi dalam jumlah besar dan terlalu sering tidak baik untuk kesehatan jangka panjang, terutama bagi orang dengan riwayat kolesterol tinggi atau penyakit jantung. <h3>Membuat Tubuh Mudah Mengantuk</h3> Banyak orang merasa mengantuk setelah berbuka puasa dengan menu bersantan. Hal ini bisa terjadi karena makanan tinggi lemak membutuhkan proses pencernaan lebih lama.<!--nextpage--> Tubuh akan mengalihkan lebih banyak aliran darah ke sistem pencernaan, sehingga energi terasa menurun dan memicu rasa kantuk. Padahal, setelah berbuka biasanya umat Muslim masih menjalankan ibadah seperti salat Magrib, Isya hingga Tarawih. Konsumsi makanan berat dan bersantan dalam porsi besar bisa membuat tubuh terasa kurang bertenaga. <h3>Berat Badan Bisa Naik Tanpa Disadari</h3> Ramadan sering kali menjadi momen di mana pola makan berubah drastis. Jika setiap hari berbuka dengan gorengan dan menu bersantan, kalori yang masuk bisa melebihi kebutuhan harian. Tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup, kelebihan kalori tersebut akan disimpan sebagai lemak tubuh.<!--nextpage--> Inilah sebabnya sebagian orang justru mengalami kenaikan berat badan setelah Ramadan. <h2>Cara Aman Mengonsumsi Santan?</h2> Bukan berarti santan harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah pengaturan porsi dan waktu konsumsi. Beberapa tips yang bisa diterapkan antara lain: Awali berbuka dengan air putih dan kurma untuk mengembalikan kadar gula darah secara perlahan. Pilih makanan ringan terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan utama. Batasi porsi makanan bersantan, tidak perlu berlebihan dalam satu waktu. Imbangi dengan sayur dan buah agar asupan serat tetap terpenuhi. Hindari mengonsumsi menu bersantan setiap hari selama Ramadan.<!--nextpage--> Dengan pola makan yang lebih seimbang, tubuh tetap bertenaga tanpa mengorbankan kenikmatan hidangan khas Ramadan. <h2>Bijak Saat Berbuka</h2> Berbuka puasa memang menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Namun, penting untuk diingat bahwa tubuh membutuhkan adaptasi setelah seharian berpuasa. Makan banyak santan saat berbuka puasa tidak dianjurkan, ternyata ini alasannya berkaitan dengan kondisi lambung yang kosong, kandungan lemak yang tinggi, serta dampaknya pada metabolisme tubuh. Menikmati opor, gulai, atau kolak tetap boleh, selama tidak berlebihan. Ramadan seharusnya menjadi momen memperbaiki pola hidup, termasuk dalam memilih dan mengatur asupan makanan.<!--nextpage-->