RBMEDIA.ID, BENGKULU – Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV), terutama di kalangan usia produktif.
Berdasarkan hasil skrining terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu, tercatat 17.695 warga yang masuk dalam kategori berisiko tinggi tertular HIV.
Ribuan Warga Masuk Kategori Berisiko Tinggi
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Neli Hartati, menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, sekitar 10.543 orang atau 60 persen sudah mendapatkan layanan pengobatan dan pendampingan dari tenaga kesehatan.
BACA JUGA :Aksi Brutal di Lempuing: Dua Remaja Bengkulu Ditangkap Polisi Setelah Bacok Teman Sebaya
“Kita melakukan skrining, hasilnya ada 17.695 orang yang berisiko HIV, dan 10.543 di antaranya sudah mendapatkan layanan pengobatan,” jelas Neli, dikutip dari KORANRB.ID, Senin (13/10).
Namun, Neli mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan: mayoritas warga yang berisiko tinggi justru berasal dari kelompok usia produktif antara 20 hingga 30 tahun.
“Mereka berasal dari berbagai latar belakang, namun sebagian besar berada di usia produktif. Ini menjadi perhatian serius karena usia tersebut adalah kelompok yang seharusnya aktif bekerja dan berkontribusi dalam pembangunan,” tambahnya.
Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan
Untuk mencegah penularan HIV semakin meluas, Dinkes Kota Bengkulu mengimbau masyarakat agar tidak ragu melakukan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Langkah deteksi dini, menurut Neli, menjadi kunci utama dalam pengendalian HIV/AIDS.
“Bagi masyarakat yang merasa berisiko, jangan takut untuk datang ke fasilitas kesehatan. Semakin cepat diperiksa, semakin cepat pula bisa dilakukan penanganan,” tegasnya.
BACA JUGA :Jalan Baru Ring Road Kepahiang Jadi Sasaran Pembuangan Sampah, Pemkab Siapkan Denda
Selain itu, Dinkes juga memperkuat program edukasi dan sosialisasi tentang pola hidup sehat dan aman, khususnya di lingkungan kerja, sekolah, dan komunitas masyarakat.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Pemkot Bengkulu menuju ‘Nol Kasus Baru HIV/AIDS’ melalui strategi pencegahan dan pengobatan berkelanjutan.
Fokus pada Usia Produktif dan Akses Layanan Kesehatan
Berdasarkan data resmi Dinkes Kota Bengkulu, dari total 17.695 warga berisiko, 7.152 orang atau 40 persen belum mendapatkan layanan medis.
Pemerintah kini berupaya memperluas jangkauan pelayanan hingga ke wilayah padat penduduk agar kelompok ini segera mendapat pendampingan dan pengobatan.
“Masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena takut atau malu. Padahal, pemeriksaan HIV sangat penting untuk keselamatan diri dan keluarga,” ujar Neli.
Ia juga menegaskan bahwa layanan pemeriksaan HIV di seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Bengkulu tidak dipungut biaya alias gratis, sehingga masyarakat diimbau untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
Dinkes Bengkulu menargetkan peningkatan capaian skrining HIV hingga 90 persen pada akhir 2025.
Dengan deteksi dini yang masif dan dukungan masyarakat, Pemkot Bengkulu optimistis penyebaran HIV dapat ditekan secara signifikan.
“Langkah kecil seperti berani memeriksa diri bisa menyelamatkan banyak nyawa. Jangan menunggu gejala muncul, karena pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan,” pungkas Neli.








