KEPAHIANG, RBMEDIA.ID – Objek wisata waterpark di kawasan kebun teh Kabawetan yang sempat digadang-gadang menjadi ikon wisata baru Kabupaten Kepahiang hingga kini masih terbengkalai.
Meski telah menghabiskan anggaran sekitar Rp15 miliar dari APBD, fasilitas wisata tersebut belum juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun wisatawan.
Memasuki pertengahan Tahun Anggaran 2026, belum terlihat adanya tanda-tanda kelanjutan pembangunan maupun pengoperasian waterpark yang berlokasi di Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan tersebut.
BACA JUGA: Tak Ingin Macet Saat Festival Tabut 2026, Pemkot Bengkulu Atur Parkir di 2 Zona Utama
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai nasib aset daerah yang sejak awal diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Bupati Kepahiang, H. Zurdi Nata, mengakui bahwa hingga saat ini pemerintah daerah belum mengalokasikan anggaran lanjutan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Keterbatasan kemampuan keuangan daerah menjadi salah satu alasan utama.
“Belum, belum ada lanjutan pembangunan untuk waterpark,” ujar Bupati Zurdi Nata, dikutip dari KORANRB.ID.
Terhenti Sejak 2021, Kondisi Bangunan Kian Memprihatinkan
Pembangunan waterpark Kabawetan diketahui terhenti sejak Tahun Anggaran 2021.
Sejak saat itu, tidak ada lagi aktivitas pembangunan yang dilakukan di lokasi proyek.
Akibatnya, sejumlah fasilitas yang telah dibangun mulai mengalami kerusakan.
Beberapa struktur besi penyangga tampak berkarat karena tidak mendapatkan perawatan yang memadai.
Selain itu, sejumlah material yang sebelumnya dipasang kini hanya menjadi bangunan mangkrak yang belum memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi waterpark berada di kawasan wisata kebun teh Kabawetan yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan Kabupaten Kepahiang.
BACA JUGA : Rumah Warga Kebun Kenanga Bengkulu Ludes Terbakar, Ini Dugaan Penyebabnya
Jika terus dibiarkan, bangunan yang terbengkalai dikhawatirkan justru mengurangi nilai estetika kawasan wisata tersebut.
Berdasarkan perencanaan awal, proyek waterpark ini membutuhkan total anggaran hingga Rp70 miliar agar dapat beroperasi secara maksimal dengan berbagai fasilitas pendukung.
Opsi Pengelolaan oleh Pihak Ketiga Mulai Dipertimbangkan
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, Pemkab Kepahiang mulai mempertimbangkan sejumlah alternatif agar aset tersebut tidak terus mangkrak.
Salah satu opsi yang muncul adalah menyerahkan pengelolaan waterpark kepada pihak ketiga melalui skema kerja sama investasi.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), aset tersebut dinilai masih memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara profesional.
“Hasil koordinasi menunjukkan aset ini masih memiliki potensi untuk dikelola pihak ketiga dan dapat memberikan kontribusi terhadap PAD daerah,” ungkap sumber pemerintah daerah.
Untuk mengoperasikan waterpark secara sederhana, dibutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar, terutama untuk pembangunan jaringan pipa dari sumber air.
Sementara jika ingin menghadirkan wahana air panas, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp4 miliar.
Ke depan, pemerintah daerah diharapkan dapat segera menentukan langkah strategis agar aset bernilai miliaran rupiah tersebut tidak terus terbengkalai.
Selain menjaga nilai investasi daerah, pemanfaatan waterpark juga berpotensi menjadi motor penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat di kawasan Kabawetan.








