RBMEDIA.ID – Pendingin ruangan atau AC menjadi solusi andalan banyak orang untuk menghadapi cuaca panas.
Namun, penggunaan AC secara berlebihan ternyata dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Kondisi ini sering tidak disadari karena gejalanya menyerupai flu biasa, seperti hidung tersumbat, pilek, hingga tenggorokan kering.
Perubahan suhu yang terlalu drastis menjadi salah satu penyebab utama munculnya masalah tersebut.
Saat seseorang berpindah dari ruangan panas dengan suhu mendekati 40 derajat celsius ke ruangan ber-AC dengan suhu sekitar 20 derajat celsius, tubuh dipaksa beradaptasi secara cepat.
Akibatnya, saluran pernapasan mengalami tekanan yang cukup besar.
Perubahan Suhu Ekstrem Bisa Ganggu Pernapasan
Tubuh manusia sebenarnya mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu secara perlahan.
Akan tetapi, perpindahan suhu yang mendadak membuat pembuluh darah di area hidung menyempit lalu melebar dengan cepat.
Kondisi ini dapat memicu vasomotor rhinitis, yakni gangguan yang menyebabkan hidung membengkak dan memproduksi lendir berlebihan.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami gejala seperti pilek, bersin, dan hidung tersumbat meskipun tidak sedang terkena infeksi virus.
Selain itu, perubahan suhu yang terlalu sering juga membuat tubuh mengalami “guncangan suhu” sehingga daya tahan tubuh terasa menurun.
Tidak hanya itu, kebiasaan keluar masuk ruangan ber-AC menuju area yang lebih panas, seperti dapur atau luar rumah, turut memperparah kondisi saluran pernapasan.
Oleh sebab itu, pengaturan suhu AC perlu dilakukan secara bertahap agar tubuh tidak mengalami perubahan ekstrem dalam waktu singkat.
Udara Kering dari AC Bisa Memicu “Flu Musim Panas”
Selain perubahan suhu, kelembapan udara juga memegang peranan penting terhadap kesehatan pernapasan.
BACA JUGA : Jelang Puncak Haji 2026, Jemaah Bengkulu Jalani Manasik Pemantapan di Mekkah
Penggunaan AC dalam waktu lama membuat udara di dalam ruangan menjadi sangat kering karena kelembapan terus berkurang.
Idealnya, kelembapan udara di dalam ruangan berada pada kisaran 40 hingga 60 persen.
Namun, penggunaan AC berlebihan dapat menurunkan kelembapan hingga 20 sampai 30 persen.
Kondisi ini membuat lapisan lendir di hidung mengering sehingga kemampuannya menangkal virus, debu, dan polutan ikut melemah.
Akibatnya, banyak orang mengalami gejala seperti tenggorokan kering, iritasi hidung, mudah lelah, hingga flu berkepanjangan saat terlalu lama berada di ruangan ber-AC.
Sebaliknya, udara yang lebih lembap membantu saluran pernapasan kembali nyaman dan mengurangi iritasi.
Filter AC Kotor Jadi Sarang Debu dan Bakteri
Kondisi AC yang jarang dibersihkan juga dapat memperburuk kualitas udara di dalam ruangan.
Filter yang kotor biasanya dipenuhi debu, jamur, serbuk sari, hingga bakteri yang kemudian tersebar melalui udara.
Partikel tersebut dapat memicu reaksi mirip alergi, seperti bersin terus-menerus, hidung gatal, hingga gangguan pernapasan.
Karena itu, membersihkan dan melakukan servis AC secara rutin sangat penting untuk menjaga kualitas udara tetap sehat.
Selain rutin membersihkan AC, suhu ruangan juga sebaiknya diatur dengan bijak.
Perbedaan suhu antara luar dan dalam ruangan idealnya tidak lebih dari 8 hingga 10 derajat celsius agar tubuh dapat beradaptasi dengan nyaman.
Jika gejala flu, demam, atau nyeri tubuh berlangsung lebih dari satu minggu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.








