BENGKULU, RBMEDIA.ID – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu Utara mulai merangkak naik antara Rp100 hingga Rp200 per kilogram.
Kenaikan ini ternyata bukan dipicu oleh perbaikan harga Crude Palm Oil (CPO), melainkan akibat menurunnya produksi sawit.
Hal ini terjadi baik di tingkat perusahaan maupun petani.
Musim Trek Jadi Penyebab Utama
Kepala Dinas Perkebunan Bengkulu Utara, Desman Siboro, SH, mengungkapkan bahwa pasokan buah sawit saat ini berkurang signifikan.
“Penurunan ini terjadi baik di kelapa sawit milik perusahaan maupun kelapa sawit petani,” terangnya dikutip dari KORANRB.ID.
Ia menjelaskan, cuaca yang tidak menentu memicu terjadinya musim trek sawit, yaitu kondisi ketika jumlah tandan buah segar menurun, baik dari sisi jumlah maupun bobot.
“Maka memang kenaikan harga ini karena pasokan buah yang diterima oleh pabrik juga menurun, terutama buah yang dihasilkan oleh petani,” tambahnya.
BACA JUGA : Rohidin Mersyah dan Dua Terdakwa Korupsi Gratifikasi Bengkulu Sepakat Tak Banding
Di tingkat perkebunan rakyat, produksi TBS diperkirakan merosot hingga 25–30 persen.
Penurunan ini otomatis berdampak pada pasokan ke pabrik, baik yang dikirim langsung oleh petani maupun melalui tengkulak.
Biasanya, musim trek berlangsung sekitar satu bulan.
Untuk mengurangi dampak jangka panjang, Desman menekankan perlunya perawatan intensif.
“Untuk mencegah penurunan kuantitas maupun bobot kelapa sawit semakin parah, meningkatkan pemupukan memang sangat efektif, namun memang membutuhkan pengeluaran yang lebih,” ujarnya.
Perbedaan Harga Antarperusahaan
Saat produksi menurun, harga TBS di Bengkulu Utara pun menunjukkan variasi yang cukup mencolok antarperusahaan.
Beberapa pabrik menetapkan harga relatif tinggi, misalnya PT Mitra Puding Mas dan PT Alno Agro Utama yang sama-sama mematok Rp3.220 per kilogram.
BACA JUGA : Dugaan Korupsi di DPRD Bengkulu Tengah, 10 Saksi Sudah Dipanggil Kejari
Sementara itu, PT Sandabi Indah Lestari menempatkan harga di kisaran Rp3.210, disusul PT Agricinal dengan Rp3.200, serta PT Kencana Katara Kawala Rp3.190 per kilogram.
PT Bumi Anugrah Sawit mematok harga sedikit lebih rendah, yakni Rp3.180 per kilogram, sedangkan PT Sandabi Indah Lestari B berada di level Rp3.150.
Namun, dua perusahaan masih menetapkan harga jauh di bawah rata-rata.
PT Berkat Bumi Sawit hanya memberikan Rp2.800 per kilogram, sementara PT Sawit Mulya bahkan menetapkan harga Rp2.550 per kilogram.
Perbedaan harga ini menunjukkan adanya variasi kebijakan masing-masing perusahaan.
Faktor-faktor seperti kualitas pasokan buah, daya serap pabrik, hingga tren pasar CPO global turut memengaruhi penetapan harga di lapangan.
Harapan Petani
Dengan kenaikan harga yang dipicu oleh penurunan produksi, para petani berharap kondisi ini tidak berlangsung lama.
Kenaikan harga memang memberi sedikit angin segar, tetapi jika produksi terus menurun, pendapatan petani justru tidak mengalami peningkatan signifikan.
Oleh karena itu, dukungan pemerintah daerah dalam memberikan penyuluhan, akses pupuk, dan fasilitas pendukung lainnya sangat dibutuhkan.
Petani berharap langkah-langkah tersebut mampu menjaga stabilitas produksi, sehingga harga sawit tetap menguntungkan tanpa mengorbankan hasil panen.








