BANDUNG, RBMEDIA.ID – Kasus tragis terjadi di Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika seorang ibu berinisial EN ditemukan tewas gantung diri bersama dua anaknya yang diduga diracun.
Peristiwa memilukan ini sontak mengguncang masyarakat dan tengah ditangani serius oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat.
Kronologi Peristiwa Tragis
Kepala Bidang Humas Polda Jabar, Komisaris Besar Polisi Hendra Rochmawan, membenarkan kejadian tersebut.
Ia menyebutkan bahwa dua anak korban, masing-masing berusia 11 bulan dan 9 tahun, ditemukan meninggal dunia di dalam rumah.
“Iya benar, ada kejadian tersebut,” ujarnya dikutip dari Antaranews.com.
Berdasarkan temuan awal, kedua anak itu diduga diracun sebelum ibunya mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di tiang pintu kamar.
“Diduga bunuh diri, ditemukan juga surat wasiat,” tambah Hendra.
Saat ini, tim penyidik masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian dan motif yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
BACA JUGA : Korupsi Chromebook, Nadiem Makarim Jadi Tersangka Kelima
Dari foto yang beredar, kondisi rumah tampak memilukan.
Sang ibu ditemukan tergantung di pintu kamar, sementara dua anaknya tergeletak tidak bernyawa.
Polisi segera mengevakuasi jenazah untuk kepentingan autopsi serta mengamankan barang bukti, termasuk surat wasiat yang ditinggalkan korban.
Surat Wasiat Ungkap Tekanan Hidup
Dalam surat wasiat yang ditulis dalam bahasa Sunda, EN menuangkan keluh kesahnya tentang kesulitan hidup yang dihadapi.
Terjemahan surat itu mengungkapkan bahwa ia merasa lelah secara lahir dan batin akibat terlilit utang yang tidak pernah selesai.
Ia juga menyinggung kekecewaannya terhadap sang suami yang dianggap tidak bertanggung jawab dan hanya menambah beban keluarga.
“Abi tos cape lahir batin, abi tos teu kuat ngajalani hirup kieu,” tulis korban dalam suratnya yang jika diterjemahkan berarti, “Saya sudah lelah lahir batin, saya sudah tidak kuat menjalani hidup seperti ini.”
BACA JUGA :Meneladani Akhlak Nabi, Pesan Prabowo di Peringatan Maulid 1447 H
Surat tersebut juga menunjukkan rasa malu korban kepada keluarga besar karena merasa terus merepotkan orang tua dan kakak-kakaknya.
Keputusan tragis itu, menurut isi surat, diambil dengan harapan agar penderitaan anak-anaknya tidak berlanjut.
Polisi Lakukan Penyelidikan Mendalam
Kepolisian menegaskan akan menyelidiki kasus ini secara mendalam.
“Untuk saat ini anggota masih dalam perjalanan ke lokasi,” kata Hendra.
Aparat akan memeriksa lebih jauh latar belakang masalah ekonomi keluarga korban serta kondisi psikologis yang diduga kuat menjadi pemicu.
Kasus ini menyoroti pentingnya dukungan keluarga, lingkungan, dan negara dalam menghadapi tekanan hidup, terutama terkait masalah ekonomi dan kesehatan mental.
Aparat juga mengingatkan masyarakat agar peka terhadap kondisi sekitar dan tidak ragu mencari pertolongan ketika menghadapi beban berat.
Peristiwa di Banjaran ini menjadi pengingat betapa rentannya kehidupan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi dan sosial.
Dukungan serta perhatian bersama sangat dibutuhkan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.








