BENGKULU, RBMEDIA.ID – Meski telah direkomendasikan untuk dilarang, penggunaan asbes masih ditemukan di sejumlah rumah tangga di Bengkulu.
Tercatat sekitar 1,90 persen rumah tangga masih menggunakan asbes sebagai material atap.
Kabupaten Kaur, Seluma, dan Mukomuko menjadi wilayah dengan penggunaan asbes tertinggi dibanding daerah lain di Bengkulu.
Ini terungkap dari data yang disampaikan Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu tahun 2025.
Risiko Penggunaan Asbes
Asbes merupakan mineral yang sejak lama digunakan sebagai bahan atap bangunan.
Jika kondisinya masih baik, asbes tidak menimbulkan bahaya.
Namun, saat rusak, material ini dapat melepaskan debu halus yang mengandung serat berbahaya.
Debu asbes sangat mudah terhirup manusia.
Dalam jangka panjang, serat yang masuk ke paru-paru bisa menyebabkan kerusakan jaringan dan memicu gangguan kesehatan serius.
Bahaya Asbestosis
Salah satu penyakit akibat paparan jangka panjang adalah asbestosis.
Penyakit ini menyerang paru-paru dan biasanya baru terlihat setelah bertahun-tahun terpapar.
BACA JUGA: Pendaftaran Calon Anggota KPID Bengkulu 2025–2028 Resmi Dibuka, Ini Syarat dan Tahapannya
Gejalanya antara lain sesak napas dan penurunan fungsi pernapasan.
Karena itu, penggunaan asbes sebagai material atap rumah perlu dipertimbangkan kembali, terutama di daerah rawan bencana seperti gempa.
Material atap yang lebih ringan dan aman jelas lebih dianjurkan.
Pertimbangan Kesehatan dan Keselamatan
Selain faktor kekuatan bangunan, aspek kesehatan juga harus jadi prioritas.
Atap rumah sebaiknya menggunakan material yang ramah lingkungan dan tidak membahayakan penghuninya.
Dengan kesadaran bersama, risiko penggunaan asbes dapat ditekan, sekaligus mendorong masyarakat beralih ke bahan bangunan yang lebih sehat.
Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memilih material bangunan.
Hindari penggunaan asbes demi kesehatan jangka panjang keluarga dan keselamatan lingkungan sekitar.








