BENGKULU, RBMEDIA.ID – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Mukomuko hampir sepekan terakhir memicu kekhawatiran serius.
Hembusan angin kencang pada pagi dan malam hari disertai hujan membuat gelombang laut meningkat hingga tiga meter.
Kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi nelayan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil laut.
Peringatan BPBD untuk Nelayan
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mukomuko, Ruri Irwandi, ST, MT, menegaskan bahwa fenomena ini memang kerap muncul setiap tahun, khususnya pada September.
BACA JUGA : Bengkulu dan Sejumlah Kota Besar Diprediksi Hujan, BMKG Keluarkan Peringatan
Ia mengingatkan bahwa perahu tradisional nelayan pesisir barat Sumatera tidak dirancang untuk menghadapi gelombang tinggi Samudera Hindia.
“Kondisi angin di Mukomuko saat ini cukup kencang, dimana angin berhembus dari tengah laut ke pinggir, dan ini sangat membahayakan bagi nelayan saat ingin berangkat melaut,” kata Ruri dikutip dari KORANRB.ID.
Menurutnya, posisi angin dan gelombang yang berlawanan dapat dengan mudah membalikkan perahu kecil nelayan.
Ruri juga menekankan pentingnya membawa perlengkapan keselamatan saat melaut.
“Pelampung, tali, dan alat navigasi jangan lupa untuk dibawa. Jika dirasa tidak memungkinkan berangkat melaut, kami sarankan jangan memaksakan. Banyak kecelakaan laut terjadi karena aksi nekat,” tambahnya.
Strategi Nelayan Hadapi Cuaca Buruk
Di sisi lain, nelayan setempat mengakui cuaca buruk ini sudah menjadi bagian dari rutinitas tahunan.
Alba, salah seorang nelayan di Pantai Indah Mukomuko (PIM), Kecamatan Kota Mukomuko, menyebut angin kencang hampir sepekan terakhir memaksa mereka lebih berhati-hati.
“Kami sudah tahu fenomena ini terjadi menjelang musim kemarau. Kalau kekuatan angin cukup kencang, dan nelayan tidak bisa mengendalikan perahu, maka perahu bisa terbalik,” ujarnya.
Menurut Alba, cara paling aman adalah menyesuaikan waktu melaut.
Sebagian besar nelayan memilih tidak turun ke laut pada pagi buta, melainkan menunggu hingga angin sedikit mereda, lalu memastikan pulang sebelum sore.
BACA JUGA : Istana Tegaskan Reshuffle Bukan untuk Hapus Jejak Era Jokowi
Pola tersebut dinilai lebih aman untuk mengurangi risiko terjebak badai laut.
Harapan Nelayan untuk Cuaca yang Lebih Baik
Meski memahami risiko, banyak nelayan tetap berusaha melaut karena kebutuhan ekonomi.
Alba mengakui tidak semua nelayan bisa menahan diri di rumah, sebab tanpa melaut mereka tidak memiliki pemasukan.
“Kalau masyarakat memilih tidak melaut dengan kondisi seperti ini ada, namun tidak seluruhnya. Sebab kalau tidak melaut, pasti tidak ada penghasilan,” jelasnya.
Nelayan berharap kondisi angin kencang segera mereda agar bisa kembali mencari ikan dengan tenang.
Bagi mereka, laut bukan hanya sumber nafkah, melainkan juga bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kewaspadaan menjadi kunci utama agar aktivitas mencari rezeki tetap aman meskipun cuaca sedang tidak bersahabat.








