BENGKULU, RBMEDIA.ID – Love scamming atau penipuan asmara di media sosial semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Modus ini memanfaatkan kebutuhan manusia akan cinta dan perhatian untuk kemudian dijadikan celah penipuan.
Banyak orang tertipu karena pelaku tampak meyakinkan, padahal identitas dan niat mereka palsu.
Lalu, apa yang membuat kasus love scamming semakin marak di era digital ini?
Kemudahan Akses Media Sosial
Pertama, perkembangan teknologi dan media sosial memudahkan siapa saja membuat identitas baru.
Dengan foto menarik dan profil palsu, pelaku dapat menipu orang lain tanpa harus menunjukkan wajah asli.
BACA JUGA:Waspada Love Scamming di Media Sosial, Jangan Sampai Jadi Korban
Transisi dari pertemanan daring menuju hubungan yang lebih personal berlangsung cepat karena media sosial memberi ruang komunikasi intens setiap hari.
Selain itu, aplikasi pesan instan mendukung komunikasi tanpa batas.
Pelaku bisa terus menghubungi target kapan saja, sehingga korban merasa dihargai dan diperhatikan.
Situasi ini secara perlahan membangun kepercayaan, yang kemudian dimanfaatkan untuk tujuan penipuan.
Kerentanan Emosional dan Psikologis
Faktor lain yang membuat love scamming tumbuh adalah kondisi emosional korban.
Banyak orang yang merasa kesepian, mengalami tekanan hidup, atau mencari pasangan serius, cenderung lebih mudah percaya pada perhatian dari orang asing.
Pelaku memahami kondisi ini dan menggunakan kata-kata manis untuk menenangkan hati korban.
Selain itu, kebutuhan akan validasi juga mendorong banyak orang terbuka di dunia maya.
Saat seseorang merasa dihargai oleh akun yang terlihat sempurna, ia bisa mengabaikan logika dan lebih menuruti perasaan.
BACA JUGA:5 Film Horor Thailand Terseram yang Angkat Kisah Hantu Ikonik
Pada titik inilah, korban rentan dimanipulasi hingga rela memberikan uang maupun informasi pribadi.
Lemahnya Literasi Digital
Kurangnya pengetahuan mengenai keamanan digital turut memperparah situasi.
Tidak sedikit pengguna internet yang belum terbiasa memverifikasi identitas orang lain atau memeriksa kebenaran informasi.
Banyak pula yang masih percaya begitu saja pada foto dan cerita yang ditampilkan pelaku.
Padahal, pelaku love scamming biasanya menggunakan foto yang dapat ditemukan di internet atau identitas orang lain yang tidak tahu menahu.
Sayangnya, karena minimnya literasi digital, korban gagal mengenali tanda-tanda penipuan sejak awal.
Kasus love scamming makin marak bukan hanya karena kecanggihan teknologi, tetapi juga karena kerentanan manusia secara emosional dan lemahnya literasi digital.
Media sosial membuka banyak peluang untuk berkenalan, namun tanpa kewaspadaan, peluang itu bisa berubah menjadi jebakan.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, menggunakan logika saat menjalin hubungan online, dan tidak mudah memberikan informasi pribadi.
Dengan begitu, penipuan asmara dapat dicegah sejak dini.








