BENGKULU, RBMEDIA.ID – Kasus keracunan massal akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebong benar-benar menyita perhatian publik.
Data terbaru mencatat hingga Kamis (28/8/2025), jumlah korban sudah tembus 539 orang, menjadikannya kasus terbesar skala nasional.
Angka ini bahkan melampaui kasus di Sleman yang mencapai 516 korban dari dua kejadian berbeda.
Ironisnya, kasus di Lebong baru terjadi di satu kecamatan dan programnya baru berjalan 21 hari.
Gejala dan Dugaan Penyebab Keracunan
Hasil penelusuran awal menunjukkan adanya kejanggalan pada menu makanan MBG. Kepala Loka POM Rejang Lebong, Pupa Feshirawan Putra, S.Farm, Apt, menegaskan bahwa pihaknya menemukan indikasi kualitas makanan yang buruk.
“Berdasarkan informasi awal yang kami himpun di lapangan, bakso terasa pahit, mie lembek dan asam, sayuran basi serta jagung berlendir,” ujarnya dikutip dari KORANRB.ID.
Pihak Loka POM telah mengamankan sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.
Sampel tersebut kini sedang diuji di laboratorium BPOM Bengkulu, dan hasilnya diperkirakan keluar dalam waktu satu minggu.
BACA JUGA:120 Siswa di Lebong Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis, RSUD Penuh Sesak
Sementara itu, Polres Lebong langsung bertindak cepat dengan menyegel dapur MBG di Desa Lemeu Pit, Kecamatan Lebong Sakti.
Ketua dapur, Martin Azip, juga telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Langkah Kepolisian dan Pemerintah
Kapolda Bengkulu, Irjen. Pol. Mardiyono, S.IK, M.Si, menegaskan bahwa kasus ini menjadi prioritas penyelidikan.
Ia menekankan pentingnya standar operasional prosedur (SOP) dalam penyajian makanan MBG.
“Tentunya tidak ada yang menginginkan kejadian ini, namun karena sudah terjadi tentunya akan ada konsekuensi yang harus diterima pihak-pihak yang kedapatan melanggar SOP,” tegas Kapolda.
Ia merinci beberapa prosedur wajib, mulai dari penyortiran bahan makanan, penyimpanan di tempat steril, hingga proses memasak yang higienis dengan juru masak yang harus mengenakan masker.
Selain itu, makanan yang sudah matang tidak boleh disimpan terlalu lama sebelum dibagikan.
Kapolres Lebong, AKBP Agoeng Ramadhani, SH, S.IK, menambahkan bahwa pihaknya masih memeriksa sejumlah saksi termasuk Martin.
“Kalau keterangan dari semua saksi sudah kami kumpulkan, termasuk hasil laboratorium, segera kami simpulkan dan lakukan jumpa pers terkait penanganan kasus ini,” jelasnya.
Kondisi Korban dan Penanganan RSUD
Direktur RSUD Lebong, dr. Eni Efriyani, memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah.
BACA JUGA :Taylor Swift dan Travis Kelce Resmi Bertunangan, Kisah Cinta Sejak 2023
“Tidak akan ada pungutan serupiah pun,” tegasnya.
Berdasarkan data, dari total 539 korban, 529 merupakan anak-anak yang terdiri dari 48 siswa TK, 350 siswa SD, dan 131 siswa SMP.
Sementara 10 lainnya adalah guru, terdiri dari 8 guru SD dan 2 guru TK.
Meski sebagian besar masih menjalani perawatan intensif, tercatat 63 orang sudah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Hingga kini, pihak rumah sakit masih siaga penuh mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien baru.
Kasus ini tidak hanya menjadi perhatian daerah, tetapi juga mencuat di tingkat nasional.
Pemerintah dan aparat penegak hukum kini didesak untuk segera menuntaskan penyelidikan serta memastikan standar higienis program MBG agar kejadian serupa tidak terulang.








