BENGKULU, RBMEDIA.ID – Kenaikan harga bensin masih menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Provinsi Bengkulu.
Di sisi lain, biaya layanan kesehatan justru menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dengan kenaikan yang terbatas.
Hal itu terungkap dalam rilis Perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Bengkulu Juni 2026 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Juli 2026.
Data tersebut menunjukkan kelompok Transportasi mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 3,90 persen.
Indeks harga kelompok ini naik dari 114,28 pada Juni 2025 menjadi 118,74 pada Juni 2026.
Tiga dari empat subkelompok transportasi mengalami kenaikan harga.
Subkelompok pembelian kendaraan naik 1,18 persen.
Selanjutnya, pengoperasian peralatan transportasi pribadi meningkat 3,82 persen.
Sementara itu, jasa angkutan penumpang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 13,52 persen.
Adapun jasa pengiriman barang tidak mengalami perubahan.
Bensin Beri Andil Terbesar
Kelompok transportasi memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,52 persen.
Komoditas yang paling besar memicu inflasi ialah bensin dengan kontribusi 0,22 persen.
Kemudian, tarif angkutan udara menyumbang 0,18 persen.
Biaya servis kendaraan dan harga sepeda motor masing-masing memberikan andil 0,03 persen.
Selain itu, solar dan mobil menyumbang 0,02 persen.
Pelumas, ban luar motor, serta aki juga ikut memberi tambahan inflasi meski lebih kecil.
Pada inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m), kelompok transportasi kembali menjadi penyumbang utama.
Bensin menjadi faktor dominan dengan andil 0,22 persen.
Namun, tarif angkutan udara justru mengalami penurunan sehingga memberikan kontribusi terhadap deflasi bulanan sebesar 0,01 persen.
“Pergerakan harga bensin masih menjadi penentu utama inflasi sektor transportasi di Bengkulu sepanjang Juni 2026.”
Sektor Kesehatan Tetap Terkendali
Sementara itu, kelompok Kesehatan mengalami inflasi tahunan sebesar 0,25 persen.
Indeks harga naik dari 106,89 menjadi 107,16 dibandingkan Juni tahun lalu.
Dua subkelompok mengalami inflasi.
Subkelompok obat-obatan dan produk kesehatan naik 2,81 persen.
Kemudian, jasa rawat jalan meningkat 1,78 persen.
Sebaliknya, jasa rawat inap mengalami deflasi sebesar 5,45 persen.
Jasa kesehatan lainnya juga turun 3,00 persen.
Kelompok kesehatan memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,01 persen.
Masker, obat gosok, tarif dokter gigi, dan obat resep menjadi komoditas yang mendorong kenaikan harga.
Di sisi lain, tarif rumah sakit menjadi penyumbang deflasi terbesar pada kelompok kesehatan.
Data BPS memperlihatkan inflasi Bengkulu pada Juni 2026 semakin dipengaruhi sektor transportasi.
Sementara itu, sektor kesehatan masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil dengan tekanan harga yang lebih rendah.








