BENGKULU, RBMEDIA.ID – Gejolak sosial berupa aksi demonstrasi dan penjarahan di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir mulai memberikan dampak nyata pada sektor pertanian.
Salah satu yang terdampak adalah harga jual kopi di Kabupaten Kepahiang.
Tren Harga Kopi Turun
Jika pada akhir Agustus 2025 harga kopi kering sempat menembus Rp60 ribu lebih per kilogram, maka sejak Selasa (2/9), harga di tingkat pengepul besar hanya berkisar Rp58 ribu hingga Rp59 ribu per kilogram.
Artinya, harga turun sekitar Rp1.000–Rp2.000 per kilogram dari sebelumnya.
BACA JUGA :Program Nasional 3 Juta Rumah, Seluma Fokus Tuntaskan Data Desa
Salah satu toke kopi di Kecamatan Kepahiang, Bambang Holil Efendi, membenarkan adanya tren penurunan ini.
Ia menilai situasi nasional yang bergejolak ikut memengaruhi stabilitas harga komoditas.
“Kondisi negara kita saat ini, jelas ikut mempengaruhi harga jual kopi,” kata Bambang dikutip dari KORANRB.ID.
Turunnya harga ini memicu kecemasan petani.
Sebagian petani yang sebelumnya menahan hasil panen dengan harapan harga terus naik, kini mulai khawatir harga justru semakin merosot.
Fluktuasi Harga Sepanjang Tahun
Bila ditarik ke belakang, harga kopi memang mengalami fluktuasi signifikan sepanjang 2025.
Pada akhir Maret, harga kopi kering sempat menembus Rp75 ribu per kilogram.
Namun, memasuki April, harga perlahan turun ke kisaran Rp70 ribuan.
Tren penurunan berlanjut hingga awal Mei, di mana harga hanya bertahan di level Rp70 ribu per kilogram.
Sejak saat itu, harga cenderung stagnan meski sesekali terjadi kenaikan tipis.
BACA JUGA :500 Pelajar Lebong Pulih Usai Keracunan MBG, Biaya Pengobatan Ditanggung Pemkab
Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya harga kopi terhadap dinamika sosial dan ekonomi nasional.
Produksi Melimpah, Keuntungan Tidak Optimal
Di sisi lain, data Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang mencatat produksi kopi tahun ini mencapai 20 ribu ton.
Produksi tersebut berasal dari 26 ribu hektare lahan kopi produktif dengan rata-rata hasil panen sekitar 700 kilogram per hektare.
Produktivitas itu dinilai masih di bawah potensi maksimal, yakni 1 ton per hektare, atau belum mencapai 80 persen dari kapasitas penuh.
Meski begitu, capaian panen tahun ini tetap lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Sayangnya, hasil panen melimpah tidak otomatis berbanding lurus dengan keuntungan petani karena harga jual tengah mengalami penurunan.
“Panen memang bagus, tapi turunnya harga membuat keuntungan petani jauh dari harapan,” ujar salah satu petani kopi yang enggan disebutkan namanya.
Harapan Petani pada Stabilitas
Petani berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat menjaga stabilitas harga di tengah kondisi sosial yang belum sepenuhnya kondusif.
Bagi mereka, harga yang stabil jauh lebih penting ketimbang panen melimpah namun nilai jual rendah.
Bambang menambahkan, ke depan diperlukan strategi pemasaran dan dukungan kebijakan agar harga kopi tidak mudah terguncang oleh faktor eksternal.
“Petani butuh kepastian, bukan hanya soal hasil panen, tapi juga harga jual yang layak,” tandasnya.








