BENGKULU, RBMEDIA.ID – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, generasi muda, khususnya Gen Z, justru tampil sebagai kelompok dengan daya beli tinggi.
Fenomena ini dikenal sebagai doom spending—gaya hidup konsumtif di mana seseorang tetap berbelanja meski menghadapi tekanan finansial dan kekhawatiran masa depan.
Fenomena tersebut kini menjadi sorotan karena berperan besar dalam menggerakkan roda ekonomi, terutama di sektor ritel dan digital.
Gaya Hidup Digital dan Dorongan Konsumtif Gen Z
Gen Z tumbuh di era digital yang serba cepat, di mana eksposur terhadap tren gaya hidup melalui media sosial sangat tinggi.
BACA JUGA :Dianggap Susu, Iklan Kental Manis Picu Masalah Gizi Anak: Ini Kata Pakar
Hal ini mendorong munculnya kebiasaan konsumtif yang sulit dikendalikan.
Mereka tidak hanya membeli kebutuhan dasar, tetapi juga produk yang memberi pengalaman emosional atau status sosial tertentu, seperti fashion, makanan kekinian, dan hiburan digital.
Selain itu, kemudahan akses terhadap e-commerce, dompet digital, dan sistem cicilan tanpa kartu kredit membuat perilaku doom spending semakin berkembang.
Banyak anak muda merasa lebih mudah untuk melakukan pembelian impulsif.
Terutama ketika dihadapkan pada promosi atau tren viral yang mendominasi platform media sosial.
Menariknya, fenomena ini tidak sepenuhnya berdampak negatif.
Di satu sisi, perilaku konsumtif tersebut membantu sektor ekonomi kreatif dan industri ritel tetap tumbuh.
Pelaku usaha kecil hingga merek besar memanfaatkan tren ini dengan menghadirkan kampanye digital yang menarik dan mudah diakses oleh generasi muda.
Antara Kesadaran Finansial dan Pertumbuhan Ekonomi
Meski menjadi motor penggerak ekonomi, perilaku doom spending menyimpan risiko jangka panjang.
Banyak anggota Gen Z mengaku sulit menabung atau berinvestasi karena pengeluaran yang tidak terkendali.
BACA JUGA :Romantis! Amanda Manopo & Kenny Austin Ucap Janji Suci di Bawah Hujan Bunga Putih
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan mereka dalam menghadapi krisis keuangan di masa depan.
Namun, di sisi lain, daya beli tinggi dari kelompok ini membantu menjaga sirkulasi uang di pasar.
Sektor hiburan, fashion, dan teknologi menjadi pemenang besar dari kebiasaan konsumtif ini.
Bahkan, beberapa analis ekonomi menilai bahwa doom spending Gen Z berperan dalam mencegah perlambatan pertumbuhan ekonomi pascapandemi.
Pemerintah dan lembaga keuangan kini mulai fokus pada upaya edukasi literasi finansial agar generasi muda mampu menyeimbangkan antara konsumsi dan perencanaan keuangan.
Kampanye kesadaran tentang pentingnya menabung, berinvestasi, dan pengelolaan pengeluaran menjadi langkah penting dalam menghadapi fenomena ini.
Fenomena Baru Ekonomi Emosional
Tren doom spending mencerminkan munculnya ekonomi emosional—di mana keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan, stres, dan kebutuhan untuk merasa “hidup” di tengah tekanan sosial.
Dengan demikian, Gen Z bukan hanya konsumen yang konsumtif, tetapi juga cerminan generasi yang mencari makna dan kenyamanan dalam aktivitas ekonomi mereka.
Jika dikelola dengan bijak, perilaku konsumtif Gen Z dapat menjadi kekuatan ekonomi baru yang mendorong inovasi dan pertumbuhan sektor kreatif.
Namun, tanpa keseimbangan finansial, tren ini bisa berubah menjadi ancaman terhadap kestabilan keuangan pribadi dan sosial.








