BENGKULU, RBMEDIA.ID – Para orang tua sering merasa perlu menambahkan garam atau gula pada makanan bayi agar lebih enak, padahal langkah tersebut justru bisa membawa risiko kesehatan jangka panjang.
Dokter anak senior India menegaskan bahwa tubuh bayi yang masih rapuh tidak mampu menerima tambahan zat tersebut dengan baik.
Bahaya Garam pada Bayi
Konsultan Senior Neonatologi dan Pediatri Rumah Sakit Apollo Cradle and Children’s Bengaluru-Brookefield, Dr. Senthil Kumar Sadasivam Perumal, menjelaskan bahwa ginjal bayi masih belum matang.
Pemberian sedikit garam saja bisa membebani organ tersebut.
“Ginjal mereka membutuhkan waktu untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengolah natrium. Memberi garam dapat menyebabkan masalah ginjal atau tekanan darah tinggi di kemudian hari,” ujar Perumal dikutip dari Antaranews.com.
BACA JUGA : SUV Ikonik Jeep Wrangler 4-Door Rubicon Dinobatkan ‘Best All Rounder Car 2025’
Asupan garam yang dianjurkan untuk bayi di bawah 12 bulan adalah kurang dari satu gram per hari, dan jumlah itu sudah tercukupi melalui ASI atau susu formula.
Penambahan garam, selain berbahaya, juga membentuk preferensi rasa asin pada anak.
Hal ini dapat berdampak pada kebiasaan makan tidak sehat ketika dewasa.
Risiko Gula, Jaggery, dan Madu
Selain garam, banyak keluarga masih memberi gula tambahan, jaggery (gula aren), atau madu pada makanan bayi.
Menurut Perumal, kebiasaan ini sama berbahayanya.
Ia menegaskan bahwa meskipun jaggery dikenal mengandung zat besi, jumlahnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan nutrisi yang bisa didapat dari buah, sayuran, dan biji-bijian.
Madu, bahkan dalam jumlah kecil, berpotensi membawa spora bakteri Clostridium botulinum yang dapat memicu botulisme pada bayi.
Penyakit ini memang jarang, tetapi berisiko fatal karena sistem pencernaan bayi belum siap untuk mengolah spora tersebut.
Sementara itu, gula rafinasi maupun gula alami tetap merupakan sumber gula terkonsentrasi.
Tentunya berpotensi menimbulkan obesitas, diabetes, dan kerusakan gigi di kemudian hari.
BACA JUGA : Vivo X300 FE Muncul di IMEI, Tanda Hadirnya Flagship Terjangkau 2025
Alternatif Makanan Sehat
Sebagai gantinya, ketika bayi memasuki usia enam bulan, orang tua dapat memperkenalkan makanan alami dengan rasa manis dan gurih yang sehat. Buah-buahan seperti pisang, apel, pepaya, dan pir dapat menjadi pilihan.
Sayuran kaya nutrisi juga bisa dikenalkan sejak dini, sementara biji-bijian seperti beras, gandum, dan suji dapat dimasak hingga lunak dan dicampur dengan ASI atau susu formula.
Kacang-kacangan serta lentil tanpa garam dapat menjadi sumber protein yang baik.
Lemak sehat dari alpukat, ghee, atau bubuk kacang (dengan catatan sudah memastikan bayi tidak memiliki alergi) juga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi.
Melindungi Perkembangan Bayi
Menurut Perumal, apa yang terasa hambar bagi orang dewasa sebenarnya sudah sesuai bagi bayi.
“Tahap bayi sangat penting untuk mengembangkan kesehatan jangka panjang, kekebalan tubuh, dan preferensi makanan. Tidak memberi garam, gula, gula aren, atau madu bukanlah kompromi, melainkan melindungi perkembangan organ bayi,” jelasnya.
Dengan langkah sederhana ini, orang tua dapat membantu membangun fondasi kesehatan yang kuat untuk masa depan anak.








