BENGKULU, RBMEDIA.ID – Deflasi Bengkulu triwulan II 2025 tercatat lebih moderat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Stabilitas harga mulai terlihat meski tekanan tetap ada.
Menurut Laporan Perekonomian Provinsi Bengkulu Agustus 2025, termoderasinya deflasi dipengaruhi normalisasi diskon tarif listrik pelanggan <2.200 VA yang sempat berlaku di triwulan I 2025.
Selain itu, kebijakan Gubernur Bengkulu yang membebaskan iuran pendidikan pada masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ikut membantu menjaga daya beli masyarakat.
Faktor Pendorong Deflasi
Deflasi pada periode ini banyak dipengaruhi oleh kelompok pendidikan, khususnya komoditas sekolah menengah atas.
BACA JUGA: Ekonomi Bengkulu Tumbuh 4,99% di Tengah Tantangan
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberi andil melalui penurunan harga cabai merah.
“Deflasi Bengkulu triwulan II 2025 tidak sedalam sebelumnya. Kebijakan pemerintah daerah berperan menjaga stabilitas harga,” tulis laporan BI Bengkulu.
Tekanan Inflasi Mulai Terlihat
Meski deflasi mereda, beberapa sektor justru memunculkan tekanan inflasi.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terdorong naik akibat lonjakan harga emas perhiasan.
Sementara kelompok transportasi tertekan oleh penyesuaian tarif.
Proyeksi Triwulan III 2025
Memasuki triwulan III 2025, tekanan inflasi Bengkulu diprakirakan meningkat.
Cuaca yang tidak menentu diprediksi mengurangi hasil panen sehingga harga pangan naik.
BACA JUGA: Keuangan Bengkulu Triwulan II 2025 Merosot Tajam
Selain itu, harga emas berpotensi terus meningkat seiring ketidakpastian global.
Penyesuaian tarif bahan bakar dan energi juga menjadi faktor pendorong inflasi ke depan.
“Risiko inflasi triwulan III lebih tinggi. Semua komponen berpotensi mengalami kenaikan,” tegas laporan BI.
Stabilitas Ekonomi Daerah
Deflasi Bengkulu triwulan II 2025 memberi sinyal positif. Namun, tantangan masih besar di triwulan berikutnya.
Pemerintah daerah bersama pusat perlu menjaga keseimbangan harga agar inflasi tetap terkendali.








