BENGKULU, RBMEDIA.ID – Serapan APBD Kabupaten Rejang Lebong tahun 2025 masih tergolong rendah.
Hingga September, realisasi belanja daerah baru mencapai 46,71 persen dari total pagu Rp1,08 triliun.
Data Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) per 24 September 2025 mencatat, belanja modal menjadi pos dengan realisasi terendah.
Dari anggaran Rp120,65 miliar, baru Rp15,48 miliar yang terserap atau hanya 12,83 persen.
“Belanja modal sangat rendah. Angka ini jauh tertinggal dibanding belanja pegawai yang sudah hampir 60 persen,” terang catatan APBD Rejang Lebong 2025.
Belanja pegawai memang mendominasi APBD dengan nilai Rp313,66 miliar atau 59,89 persen dari total anggaran Rp523,71 miliar.
Sementara itu, belanja barang dan jasa baru terserap 36,80 persen.
Di sisi pendapatan, total pendapatan daerah baru terealisasi Rp553,03 miliar atau 53,10 persen dari pagu Rp1,04 triliun.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru tercapai Rp41,41 miliar atau 44,51 persen.
BACA JUGA: Belanja Modal Rendah, APBD Bengkulu Utara 2025 Seret
Dari PAD tersebut, pajak daerah berkontribusi Rp19,11 miliar atau 46,49 persen.
Meski begitu, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan menunjukkan kinerja positif.
Realisasinya mencapai 92,56 persen, yaitu Rp2,04 miliar dari pagu Rp2,20 miliar.
Adapun belanja hibah juga masih rendah.
Dari Rp26,16 miliar, baru Rp3,82 miliar yang tersalurkan atau 14,60 persen.
Bantuan sosial dan belanja tidak terduga sama sekali belum terealisasi.
“Data ini masih bersifat sementara. Realisasi APBD Rejang Lebong 2025 tercatat hingga bulan September, sehingga masih ada kemungkinan berubah,” terang catatan dalam SIKD.
Dengan kondisi ini, pemerintah daerah dituntut mempercepat realisasi belanja produktif, terutama belanja modal.
Tanpa percepatan, penyerapan APBD dikhawatirkan tidak optimal hingga akhir tahun.








