BENGKULU, RBMEDIA.ID – Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) se-Provinsi Bengkulu tahun 2025 belum optimal.
Hingga September, serapan anggaran baru mencapai Rp6,48 triliun atau 47,21 persen dari total pagu Rp13,72 triliun.
Pendapatan daerah juga masih di bawah target. Dari pagu Rp13,29 triliun, realisasi baru Rp7,10 triliun atau 53,46 persen.
Rinciannya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) tercatat Rp1,15 triliun atau 52 persen dari target Rp2,22 triliun.
BACA JUGA: Pendapatan Kepahiang 2025 Tumbuh, Belanja Modal Seret
Kontribusi terbesar berasal dari pajak daerah Rp781,89 miliar dan retribusi Rp138,23 miliar.
Namun, penerimaan dari transfer antar daerah dan pendapatan hibah masih rendah.
Di sisi belanja, porsi terbesar terserap untuk belanja pegawai.
Dari anggaran Rp6,28 triliun, realisasi sudah Rp3,76 triliun atau 59,89 persen.
Sementara itu, belanja modal justru masih seret. Dari pagu Rp2,07 triliun, realisasi baru Rp432,05 miliar atau 20,87 persen.
Kondisi ini menunjukkan rendahnya percepatan pembangunan fisik di berbagai daerah.
Belanja barang dan jasa juga relatif rendah. Dari Rp3,34 triliun, baru terserap Rp1,33 triliun atau 39,99 persen.
Adapun belanja hibah dan bantuan sosial masih di bawah 30 persen.
Jika dilihat dari sisi pembiayaan, penerimaan pembiayaan daerah Rp269,44 miliar atau 61,27 persen dari target Rp439,74 miliar.
Namun, pengeluaran pembiayaan masih nol.
Dengan kondisi ini, realisasi APBD se-Provinsi Bengkulu tahun 2025 menghadapi tantangan serius.
Optimalisasi belanja produktif, terutama belanja modal, sangat penting agar pembangunan daerah berjalan lebih seimbang.








