SELUMA, RBMEDIA.ID – Kasus kesehatan yang mengejutkan terjadi di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.
Seorang balita bernama Khaira Nur Sabrina (1 tahun 8 bulan) mengeluarkan cacing gelang berukuran besar dari mulut dan hidungnya setelah mengalami demam tinggi.
Peristiwa ini langsung menghebohkan tenaga medis RSUD Tais dan menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Seluma.
Awal Mula Gejala hingga Penanganan Medis
Khaira, anak kedua pasangan Prengki dan Yanti, awalnya mengalami demam tinggi pada Minggu (14/9) sore.
Melihat kondisi sang buah hati kian melemah, orang tua membawa Khaira ke RSUD Tais untuk mendapatkan perawatan medis.
Tidak lama setelah penanganan, tim medis dibuat terkejut karena dari mulut dan hidung Khaira keluar cacing gelang hidup.
BACA JUGA : Rahasia Menjaga Pakaian Putih Tetap Bersih dan Awet
“Kami sore kemarin diantar ambulan Puskesmas. Anak kami awalnya demam tinggi, pas dirawat di RSUD Tais baru tahu keluar cacing. Kalau di rumah saya ada ternak ayam kampung,” ujar Prengki, ayah Khaira, dikutip dari rbtv.disway.id Senin (15/9).
Kasi Kesehatan Keluarga Dinkes Seluma membenarkan kasus tersebut.
Ia menegaskan bahwa ini merupakan kejadian pertama di Kabupaten Seluma yang langsung dilaporkan dan ditangani.
Tak hanya Khaira, sang kakak yang berusia 4 tahun juga turut dirawat karena diduga mengalami masalah kesehatan serupa.
Kondisi Rumah Memprihatinkan
Pasca kejadian, tim Dinkes Seluma melakukan pemeriksaan langsung ke rumah keluarga Khaira. Hasil pengecekan menunjukkan kondisi rumah sangat tidak layak.
Bangunan yang ditempati keluarga ini hanya berdinding papan dengan lantai tanah, sementara area kamar mandi berada di lingkungan yang kotor dan tidak sehat.
“Secara kasat mata, kondisi rumahnya sangat memprihatinkan. Selain itu, di sekitar rumah terdapat ternak ayam yang bisa menjadi faktor risiko,” terang petugas Dinkes Seluma.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa faktor lingkungan dan pola hidup turut memengaruhi kondisi kesehatan anak-anak di keluarga ini.
Pihak Dinkes juga menegaskan bahwa kedua anak pasangan Prengki dan Yanti masuk kategori kurang gizi, sehingga lebih rentan terkena penyakit.
Perawatan Intensif dan Tindak Lanjut
Untuk sementara, Khaira dan kakaknya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tais.
BACA JUGA : Rahasia Tagihan Listrik Lebih Ringan: Hemat Tanpa Ribet
Meski sempat muncul wacana rujukan ke rumah sakit di Kota Bengkulu, keputusan akhir akan menunggu rekomendasi dari dokter spesialis anak yang menangani langsung kedua pasien tersebut.
“Rencana rujukan masih menunggu rekomendasi dokter. Kami pastikan anak-anak ini mendapat perawatan sesuai standar,” tambah perwakilan Dinkes.
Kasus Khaira menambah daftar panjang permasalahan kesehatan anak di daerah dengan keterbatasan fasilitas serta kondisi sosial ekonomi yang rendah.
Pemerintah daerah pun diharapkan dapat meningkatkan perhatian pada faktor lingkungan dan gizi masyarakat, terutama pada keluarga dengan anak balita.








