AUSTRALIA, RBMEDIA.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga mantan Capres, Anies Baswedan, menyoroti masalah kesenjangan pendidikan akibat adanya label “sekolah favorit”.
Menurutnya, label tersebut justru membuat akses pendidikan hanya bisa dinikmati kelompok menengah ke atas.
BACA JUGA: Sidak DPRD Rejang Lebong ke Dapur MBG Tuai Penolakan
Dalam pidatonya di Monash University, Clayton Campus, Australia, Anies menyebut bahwa pada 2019 Jakarta mulai melakukan reformasi sistem pendaftaran sekolah.
Langkah ini diambil untuk memberi kesempatan yang sama bagi anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga.
“Label ‘sekolah favorit’ ternyata menciptakan kesenjangan dalam pendidikan kita. Faktanya, sebagian besar muridnya berasal dari kelas menengah ke atas,” ujar Anies Baswedan.
Sebelum reformasi, lebih dari 90 persen siswa di SMA negeri favorit di Jakarta berasal dari keluarga berpendidikan tinggi.
Hal ini berbanding terbalik dengan data partisipasi pendidikan, di mana 36 persen anak dari keluarga berpenghasilan rendah tidak pernah mencapai bangku sekolah menengah.
Anies menjelaskan, sistem baru berbasis undian acak (randomized system) diterapkan agar distribusi siswa lebih adil.
BACA JUGA: Anies Baswedan dan Mahfud MD Reuni, Nostalgia di Yogya
Dengan metode ini, komposisi siswa akan lebih mencerminkan populasi Jakarta secara keseluruhan.
“Jika dilakukan secara acak, hasilnya lebih mencerminkan populasi kita. Jadi, ada siswa dari keluarga tidak berpendidikan, ada juga dari SMP, SMA, hingga perguruan tinggi,” jelasnya.
Namun, kebijakan tersebut sempat mendapat protes keras dari kalangan menengah ke atas.
Mereka merasa sistem baru mengurangi peluang anak-anak mereka masuk ke sekolah favorit.
Meski begitu, Anies menegaskan kebijakan ini penting untuk mencegah kesenjangan berkelanjutan dalam pendidikan.
Ia juga mengakui kebijakan tersebut tidak memberi keuntungan elektoral.
BACA JUGA: Insiden Ojol Tewas, Propam Polri Tegaskan Proses Etik Berlanjut
Kelompok yang diuntungkan jarang menyuarakan dukungan politik, sementara yang merasa dirugikan justru vokal menyampaikan protes.
“Manfaat politiknya tidak ada. Anak-anak mereka bisa bersekolah, tetapi itu tidak menghasilkan suara dalam pemilu. Inilah tantangan bagi politisi,” kata Anies.
Menurut Anies Baswedan, hal ini menjadi pelajaran penting dalam dunia politik.
Kebijakan baik tidak selalu sejalan dengan keuntungan elektoral, namun tetap harus diambil demi keadilan sosial.








