GORONTALO, RBMEDIA.ID –Perjalanan hidup Sofyan Jusuf, seorang penyandang disabilitas tunarungu di Kota Gorontalo, menjadi bukti nyata bahwa kegigihan dan ketulusan dalam bekerja tidak pernah sia-sia.
Setelah 20 tahun mengabdi sebagai penjaga sekolah di SDN 06 Kota Barat, Sofyan akhirnya dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Bagi Sofyan, pengangkatan ini bukan hanya capaian karier, melainkan hasil dari kesabaran dan dedikasi panjang yang dijalani tanpa pamrih.
Ia mulai bekerja di sekolah tersebut pada tahun 2005, setelah sebelumnya berprofesi sebagai buruh bangunan.
BACA JUGA:Anti Boncos! 5 Strategi Hemat Belanja Bulanan yang Terbukti Efektif
Perjalanan Panjang Penuh Ketekunan
Pada awal pengabdiannya, Sofyan digaji hanya Rp175 ribu per bulan.
Meski jumlahnya kecil, ia tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Seiring waktu, karena keuletan dan kedisiplinannya, pihak sekolah menaikkan gajinya menjadi Rp750 ribu per bulan.
Ia pun dipercaya tidak hanya sebagai penjaga sekolah, tetapi juga petugas kebersihan dan keamanan sekolah.
Rutinitasnya dimulai sejak pukul 06.00 WITA setiap hari.
Ia membersihkan halaman dan ruang kelas, menata taman, hingga merawat seluruh fasilitas sekolah.
Bahkan, saat akhir pekan tiba, Sofyan kerap memanfaatkan waktu luang dengan bekerja sebagai tukang bangunan di rumah warga sekitar untuk menambah penghasilan.
“Alhamdulillah, pada tahun ini ketika ada kesempatan saya mencoba mengikuti seleksi dan dinyatakan lulus pada pengangkatan PPPK paruh waktu,” ujar Sofyan dikutip dari Antaranews.com.
Kisahnya mencerminkan keteguhan hati seorang pekerja yang tidak pernah menyerah meski menghadapi keterbatasan fisik.
Ia sempat mengikuti seleksi ASN pada 2011, namun saat itu belum berhasil.
Momen tahun ini menjadi titik balik sekaligus buah dari perjuangan panjangnya.
BACA JUGA:Digital Smart Living: Tips Tetap Fokus dan Aman di Dunia Online
Dukungan dari Rekan dan Sekolah
Selama dua dekade bekerja di SDN 06 Kota Barat, Sofyan dikenal oleh rekan-rekannya sebagai sosok yang rajin dan rendah hati.
Dedikasinya dalam menjaga kebersihan serta keamanan sekolah membuat banyak pihak menghormatinya.
Operator sekolah, Deasy Putri Modjo, menyebut bahwa pengangkatan Sofyan sebagai PPPK menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga besar sekolah.
Ia menilai pengabdian Sofyan bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal ketulusan dalam bekerja.
“Kinerja Sofyan selama ini cukup bagus, ia rajin dan bekerja dengan disiplin. Terangkatnya beliau menjadi PPPK paruh waktu merupakan kebahagiaan bagi kami semua,” ujar Deasy.
Selain dukungan moral dari pihak sekolah, Sofyan juga dikenal sebagai sosok mandiri.
Selama hari kerja, ia tinggal di perumahan sekolah, sementara di akhir pekan ia bersepeda menuju rumah kerabatnya di Kelurahan Ulapato, Kecamatan Telaga Biru.
Inspirasi dari Sebuah Ketulusan
Kini, status baru sebagai PPPK memberi kebanggaan tersendiri bagi Sofyan.
Dengan penghasilan yang lebih layak, ia merasa kehidupannya semakin stabil dan mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Lebih dari itu, kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Perjalanan Sofyan Jusuf membuktikan bahwa pengabdian dan kerja keras akan menemukan jalannya menuju penghargaan yang setimpal.
Ia adalah potret nyata bagaimana ketulusan hati mampu mengubah nasib seseorang — dari penjaga sekolah menjadi abdi negara yang menginspirasi.








